Punya keluarga seperti ini kadang membuat aku malu.
Aku malu ketika harus membatalkan janjiku untuk jalan sama temen-temen.
Cuma karena mama yang gak bolehin keluar rumah.
Aku malu karena harus menerima laporan dari teman.
Bahwa mamaku menegur mereka hanya untuk alasan sepele lewat telepon.
Aku malu saat tahu aku harus kecewa.
Bahwa untuk mendapat ijin mengikuti kegiatan kesukaanku saja, aku tidak diijinkan.
Aku malu untuk punya teman lelaki secara terang-terangan.
Toh mereka memprotes dengan "Sekolah dulu yang bener. Gausah pacaran-pacaran kayak gitu. Dia aja belom beres sekolahnya. Mau dikasih makan batu?"
Aku iri dengan temanku yang bisa dengan mudah mendapat kepercayaan dari orangtuanya.
Tak perlu memberikan surat ijin untuk kegiatan organisasi ataupun kepanitiaan saat harus menginap.
Aku iri dengan temanku yang punya hubungan super menyenangkan dengan orangtua mereka.
Lalu bagaimana dengan aku?
Aku malu, Tuhan.
Aku capek.
Maaf, kalau aku menyesal atas pemberian keluarga yang seperti ini.
Maaf, kalau aku marah atas orangtua dan adik yang Kau kasih Tuhan.
Maaf, kalau seringkali aku pengen banget punya keluarga yang lain.
Maaf, kalau aku benci orangtuaku.
Maaf, kalau aku tidak senang dengan adikku.
Maaf, kalau aku membenci keadaan dan diriku sendiri.
Maaf, Tuhan.
Ketika teman-temanku bisa bersyukur dengan mudahnya atas orangtua mereka.
Aku ingin merasakan hal itu.
Aku butuh psikolog, tampaknya.
Aku mau pulang ke rumah terakhirku saja rasanya.
Boleh, Tuhan?
uci kenapose?
ReplyDelete