Friday, May 22, 2015

Belum Kunjung Usai

Pagi ini aku bangun dengan semangat sekali. Rencananya seharian aku mau mengerjakan revisi skripsi. Langsung saja aku mandi dan merasa sangat segar. Saat kembali ke kamar sesudah mandi, aku cek handphone-ku. Ada 7 email yang masuk, salah satunya dari dosen pembimbing skripsi. Dosen pembimbing skripsi bukanlah suatu asosiasi yang menyenangkan buatku. Setiap kali ada email darinya, perutku langsung mules. Tak berbeda saat kubaca email pagi ini.

Email itu menunjukkan progress skripsi dari masing-masing bimbingannya yang menggunakan metode kualitatif. Lagi-lagi aku harus nelangsa, melihat bahwa bahkan angkatan di bawahku membuat progress yang lebih cepat. Aku langsung down. Jujur saja, aku sudah bingung dengan proses bimbingan skripsiku.

Rabu lalu, aku bimbingan skripsi. Saat membuat janji, aku dijanjikan untuk bimbingan pukul 11 siang. Kenyataannya aku baru masuk ruang bimbingan pukul 11.55. Aku menunggu 55 menit di kursi itu untuk bisa memulai bimbinganku. Bukannya aku keberatan disuruh menunggu, namun aku semestinya bisa menggunakan 55 menit itu untuk melakukan pekerjaan lain yang sama pantingnya. Ini bukan kali pertama aku harus menunggu beberapa lama untuk bimbingan. Bimbingan yang lalu, akupun harus menunggu 25 menit lebih untuk akhirnya memulai bimbingan. Tak hanya menunggu lama, proses bimbinganpun selalu singkat. Tak sampai 30 menit. Selama bimbinganpun aku merasakan emosi tidak menyenangkan. Dosen pembimbingku rasanya sudah enggan memberikan masukan. Aku bisa melihat hal ini dari gestur dan tutur katanya. Akhir-akhir ini, dosen pembimbingku selalu melibatkan dosen lain untuk memberi masukan saat bimbingan. Jujur saja, aku merasa lebih nyaman dengan dosen yang lain, yang setidaknya masih menunjukkan antusiasme saat memberikan masukan.

Ya, aku tahu aku salah. Aku sungguh sangat tidak serius dalam mengerjakan skripsi. Inikah balasan yang kuterima? Di bimbingan lalu-lalu, poin A tidak dipermasalahkan. Namun di bimbingan kemarin poin A seolah jadi masalah besar. Di bimbingan lalu-lalu, poin C harus dituliskan bla bla bla. Di bimbingan kemarin bla bla bla lagi-lagi kurang ini itu. Harus apa dengan skripsiku? Aku merasa semangat yang sudah coba kupupuk begitu lama harus terpatahkan lagi dalam sekejap.

Aku lelah. Jenuh dengan skripsi yang belum kunjung usai. Aku harus apa, toh menangis tak pernah membantuku menyelesaikan skripsiku. Mengerjakan perlahan pun masih tetap salah. Aku bingung. Aku hilang arah.

Tuesday, May 19, 2015

Tenang

Sore itu aku merasa nanar. Perih sekali dalam hati. Setelah kuputuskan untuk mengurangi jarak dan mendapat respon tidak menyenangkan, aku memutuskan untuk diam. Kali ini sungguh diam. Seminggu terakhir, kembali aku tidak muncul di grup itu. Ini kali pertama aku mematikan notifikasi grup ini. Aku memilih menjaga diriku dulu. Protecting myself from another painful events. Seminggu terakhir ini, tanpa komunikasi dengan mereka, aku mencoba mencari kedamaian dan rasa hangatku sendiri. Aku bersyukur, seminggu terakhir ini bisa lebih banyak menghabiskan waktuku dengan keluarga, dengan orang-orang yang bisa menerimaku apa adanya. Geli rasanya untuk membayangkan (lagi) bahwa orang-orang itu adalah orang yang sungguh-sungguh baru masuk dalam hidupku akhir-akhir ini.

Seminggu ini, aku merasa jauh lebih tenang. Aku merasa tidak terlalu jengah. Aku merasa bisa menata kembali hidupku perlahan-lahan. I feel so blessed to finally found out who truly care for me. Perasaan ini sungguh meluap-luap, mengetahui masih ada orang yang peduli padaku. Setidaknya, aku tahu aku masih bisa berjuang bersama mereka. Aku merasa tenang. Mengutip kata Einstein, "Terimakasih sudah berkata tidak padaku. Karena akhirnya, aku bisa menemukan kebahagiaanku sendiri." Tanpa ada rasa tidak nyaman, tanpa ada rasa jengah, tanpa ada kemunafikan.


Tuesday, May 12, 2015

Distance.

https://c1.staticflickr.com/9/8384/8637269945_f1d69e7afa_z.jpg
Katanya, jarak bukan penghalang kalau saling sayang. Katanya, jarak tak berarti jika saling peduli. Jarak bukan hanya dalam artian kilometer, namun jarak secara psikologis. I've been making some distance from people lately. Beberapa hari, mungkin lima atau enam hari. Suntuk, rasanya aku jengah berada di antara orang-orang yang lagi-lagi kupikir peduli. Dan lagi-lagi aku harus kecewa. Sore itu, aku putuskan untuk tidak berkontak dengan mereka (lagi). Aku lelah harus berpura-pura senang namun dalam hati sakit bukan main.

Kadang aku merasa ingin pergi. Ingin mengenal orang-orang baru yang belum pernah kutemui. Ingin bertemu suasana yang sungguh bisa membuatku nyaman menjadi diriku sendiri. Sayangnya, akhir-akhir ini aku harus menciptakan suasana itu sendiri. Bukan sekali dua kali aku membuat jarak. Beberapa kali. Mungkin ini kali ketiga atau keempat. Aku tak begitu ingat. Namun, mungkin mereka sudah terbiasa dengan jarak yang aku buat. Aku rasanya enggan untuk memulai lagi, toh sama saja ada atau tidak adanya aku.

Sore ini, kuputuskan untuk "kembali mengurangi jarak". Hal inipun kulakukan setelah aku meminta saran dari orang yang kuanggap bisa kupercaya. Bukan salah satu dari mereka, namun dari orang yang bahkan belum pernah kutemui secara langsung. Namun, aku menerima respon yang kurasa sinis dari beberapa mereka. "Eh, masih inget buat mampir kemari?" "Kirain udah lupa sama kita sis" katanya menanggapi chatku di line. Hanya bisa tersenyum. Itu hal yang paling mudah yang bisa kulakukan. I was expecting a warm welcome, but again, karma does exist, right? Aku yang mungkin berlaku dingin dengan membuat jarak, mendapatkan balasan yang dingin pula.

Ah entahlah, awalnya kupikir jarak yang kubuat bisa membuat diriku lebih baik hari ini. Tapi ternyata sama saja. Tidak berarti, masih kosong, masih sepi, masih jengah. Aku ingin sekali punya sahabat. Orang yang bisa kuceritakan semua kesahku, yang bisa menjadi partner kala suka dan duka. "Persahabatan saat kuliah biasanya gak mendalam. Mereka gak bisa dipercaya," kata orang yang menjadi tempat curhatku akhir-akhir ini. Aku masih belum percaya pernyataannya tersebut. Namun, mungkin saat aku masuk dunia pekerjaan yang lebih sadis, baru bisa kutemukan orang yang bisa sungguh aku percaya.

Jarak. Jauh. Tapi Dia tidak jauh. Dia hanya sejauh doa. Tuhan hanya sejarak doa. Lagi-lagi, aku hanya bisa kembali pada Tuhan. Sejauh apapun jarak yang aku coba buat dengan Tuhan, Dia setia menungguku kembali. Tak pernah Dia berkomentar, "Eh, masih inget buat berdoa?" "Kirain udah lupa sama Aku, anakKu". Hanya kasih sayang yang kurasakan, setiap kali aku menangis dalam doa, setiap kali aku kembali padaNya. And this beautiful Bible quote couldn't make me calm more:

"I call on the Lord in my distress, and He answers me."- Psalm 120:1.

Tuesday, May 5, 2015

Dear May

Tak terasa, bulan sudah berganti. Mei. Tak terasa, karena dulu janjiku pada diri untuk mendaftar sidang pada tanggal 4 Mei. Nyatanya, sekarang sudah tanggal lima. Dan sekali lagi, aku gagal untuk daftar sidang. Aku merasa tak berguna lagi. Aku merasa tidak berharga lagi. Harapan kedua orangtuaku harus pupus sekali lagi, untuk bisa melihat anak sulungnya ujian skripsi.

Rasanya bingung, aku merasa sendirian. Tak ada yang sungguh-sungguh peduli padaku, bahkan orang-orang yang kupikir akan peduli. Tapi tak bisa dan tak boleh kuharapkan orang lain peduli, mereka punya urusan masing-masing. Namun aku beruntung.....

Akhir tahun 2014 lalu, aku bergabung dalam sebuah komunitas fotografi ponsel. Saat itu, aku masih tak bisa apa-apa. Namun ketertarikanku akan dunia foto semakin memuncak saat bersentuhan dengan dunia foto minimalis. Dalam komunitas itu, aku bertemu dengan seseorang. Awalnya, kupikir aku hanya akan sebatas berteman dengannya. Hanya sekadar obrolan tentang foto. Sungguh di luar dugaanku, orang ini melakukan lebih. Tak hanya bicara tentang fotografi semata, orang ini menyentuh hidupku secara personal. Beberapa hari lalu saat aku sungguh ada di titik bawahku, dialah orang yang sungguh-sungguh peduli. Aku terharu dan merasa bersalah saat tahu dia sungguh kuatir padaku. Tak pernah kudapatkan perhatian seistimewa ini. Dan aku bersyukur. Dari dulu aku ingin sekali punya seorang kakak, sosok yang bisa menjaga, melindungiku, dan membuatku merasa aman. Orang ini menjagaku, memastikan aku aman dengan caranya sendiri, dan membuatku tidak kuatir dulu. Orang ini membuat aku merasa bahwa aku disayangi. Om Dhana, begitulah aku biasa memanggilnya. Aku merasa bahagia bisa mengenal dirimu Om. Aku merasa sungguh diberkati bisa bertemu denganmu. Bagiku, kau seperti malaikat yang dikirim Tuhan untuk menjagaku dengan caramu sendiri. Aku beruntung.

..........bisa bertemu dengan orang yang sungguh-sungguh peduli padaku. Dan biarlah kepedulian ini bisa membuatku menyemangati diriku, untuk menyelesaikan skripsi, menyelesaikan sidang, menyelesaikan mimpiku yang tertunda.

Dear May, please be nice.

Wednesday, April 29, 2015

The moment when you realize.....

That your dream broken into pieces.
That your mind going crazy.
That your body isn't that strong.
That your friends leave you one by one.
That your lover is such an asshole.
That your life isn't that perfect.

The moment when you realize....
You just fed up.
You can't hold it anymore.
You wanna run away.
You need to end things as soon as possible.
You start to stop believing.

The moment when you realize...
You are just a human.
You are tired of being alone.
You are nothing.

And that's the moment when you finally realize..
I just need God.
I need God to walk with me.
I need God to lead me.
I need God who won't leave me,
I need God who won't disappoint me.
I need God who will love me for who I am.

And that's the moment I am thankful because I have you, dear Jesus.