Friday, May 22, 2015

Belum Kunjung Usai

Pagi ini aku bangun dengan semangat sekali. Rencananya seharian aku mau mengerjakan revisi skripsi. Langsung saja aku mandi dan merasa sangat segar. Saat kembali ke kamar sesudah mandi, aku cek handphone-ku. Ada 7 email yang masuk, salah satunya dari dosen pembimbing skripsi. Dosen pembimbing skripsi bukanlah suatu asosiasi yang menyenangkan buatku. Setiap kali ada email darinya, perutku langsung mules. Tak berbeda saat kubaca email pagi ini.

Email itu menunjukkan progress skripsi dari masing-masing bimbingannya yang menggunakan metode kualitatif. Lagi-lagi aku harus nelangsa, melihat bahwa bahkan angkatan di bawahku membuat progress yang lebih cepat. Aku langsung down. Jujur saja, aku sudah bingung dengan proses bimbingan skripsiku.

Rabu lalu, aku bimbingan skripsi. Saat membuat janji, aku dijanjikan untuk bimbingan pukul 11 siang. Kenyataannya aku baru masuk ruang bimbingan pukul 11.55. Aku menunggu 55 menit di kursi itu untuk bisa memulai bimbinganku. Bukannya aku keberatan disuruh menunggu, namun aku semestinya bisa menggunakan 55 menit itu untuk melakukan pekerjaan lain yang sama pantingnya. Ini bukan kali pertama aku harus menunggu beberapa lama untuk bimbingan. Bimbingan yang lalu, akupun harus menunggu 25 menit lebih untuk akhirnya memulai bimbingan. Tak hanya menunggu lama, proses bimbinganpun selalu singkat. Tak sampai 30 menit. Selama bimbinganpun aku merasakan emosi tidak menyenangkan. Dosen pembimbingku rasanya sudah enggan memberikan masukan. Aku bisa melihat hal ini dari gestur dan tutur katanya. Akhir-akhir ini, dosen pembimbingku selalu melibatkan dosen lain untuk memberi masukan saat bimbingan. Jujur saja, aku merasa lebih nyaman dengan dosen yang lain, yang setidaknya masih menunjukkan antusiasme saat memberikan masukan.

Ya, aku tahu aku salah. Aku sungguh sangat tidak serius dalam mengerjakan skripsi. Inikah balasan yang kuterima? Di bimbingan lalu-lalu, poin A tidak dipermasalahkan. Namun di bimbingan kemarin poin A seolah jadi masalah besar. Di bimbingan lalu-lalu, poin C harus dituliskan bla bla bla. Di bimbingan kemarin bla bla bla lagi-lagi kurang ini itu. Harus apa dengan skripsiku? Aku merasa semangat yang sudah coba kupupuk begitu lama harus terpatahkan lagi dalam sekejap.

Aku lelah. Jenuh dengan skripsi yang belum kunjung usai. Aku harus apa, toh menangis tak pernah membantuku menyelesaikan skripsiku. Mengerjakan perlahan pun masih tetap salah. Aku bingung. Aku hilang arah.

Tuesday, May 19, 2015

Tenang

Sore itu aku merasa nanar. Perih sekali dalam hati. Setelah kuputuskan untuk mengurangi jarak dan mendapat respon tidak menyenangkan, aku memutuskan untuk diam. Kali ini sungguh diam. Seminggu terakhir, kembali aku tidak muncul di grup itu. Ini kali pertama aku mematikan notifikasi grup ini. Aku memilih menjaga diriku dulu. Protecting myself from another painful events. Seminggu terakhir ini, tanpa komunikasi dengan mereka, aku mencoba mencari kedamaian dan rasa hangatku sendiri. Aku bersyukur, seminggu terakhir ini bisa lebih banyak menghabiskan waktuku dengan keluarga, dengan orang-orang yang bisa menerimaku apa adanya. Geli rasanya untuk membayangkan (lagi) bahwa orang-orang itu adalah orang yang sungguh-sungguh baru masuk dalam hidupku akhir-akhir ini.

Seminggu ini, aku merasa jauh lebih tenang. Aku merasa tidak terlalu jengah. Aku merasa bisa menata kembali hidupku perlahan-lahan. I feel so blessed to finally found out who truly care for me. Perasaan ini sungguh meluap-luap, mengetahui masih ada orang yang peduli padaku. Setidaknya, aku tahu aku masih bisa berjuang bersama mereka. Aku merasa tenang. Mengutip kata Einstein, "Terimakasih sudah berkata tidak padaku. Karena akhirnya, aku bisa menemukan kebahagiaanku sendiri." Tanpa ada rasa tidak nyaman, tanpa ada rasa jengah, tanpa ada kemunafikan.


Tuesday, May 12, 2015

Distance.

https://c1.staticflickr.com/9/8384/8637269945_f1d69e7afa_z.jpg
Katanya, jarak bukan penghalang kalau saling sayang. Katanya, jarak tak berarti jika saling peduli. Jarak bukan hanya dalam artian kilometer, namun jarak secara psikologis. I've been making some distance from people lately. Beberapa hari, mungkin lima atau enam hari. Suntuk, rasanya aku jengah berada di antara orang-orang yang lagi-lagi kupikir peduli. Dan lagi-lagi aku harus kecewa. Sore itu, aku putuskan untuk tidak berkontak dengan mereka (lagi). Aku lelah harus berpura-pura senang namun dalam hati sakit bukan main.

Kadang aku merasa ingin pergi. Ingin mengenal orang-orang baru yang belum pernah kutemui. Ingin bertemu suasana yang sungguh bisa membuatku nyaman menjadi diriku sendiri. Sayangnya, akhir-akhir ini aku harus menciptakan suasana itu sendiri. Bukan sekali dua kali aku membuat jarak. Beberapa kali. Mungkin ini kali ketiga atau keempat. Aku tak begitu ingat. Namun, mungkin mereka sudah terbiasa dengan jarak yang aku buat. Aku rasanya enggan untuk memulai lagi, toh sama saja ada atau tidak adanya aku.

Sore ini, kuputuskan untuk "kembali mengurangi jarak". Hal inipun kulakukan setelah aku meminta saran dari orang yang kuanggap bisa kupercaya. Bukan salah satu dari mereka, namun dari orang yang bahkan belum pernah kutemui secara langsung. Namun, aku menerima respon yang kurasa sinis dari beberapa mereka. "Eh, masih inget buat mampir kemari?" "Kirain udah lupa sama kita sis" katanya menanggapi chatku di line. Hanya bisa tersenyum. Itu hal yang paling mudah yang bisa kulakukan. I was expecting a warm welcome, but again, karma does exist, right? Aku yang mungkin berlaku dingin dengan membuat jarak, mendapatkan balasan yang dingin pula.

Ah entahlah, awalnya kupikir jarak yang kubuat bisa membuat diriku lebih baik hari ini. Tapi ternyata sama saja. Tidak berarti, masih kosong, masih sepi, masih jengah. Aku ingin sekali punya sahabat. Orang yang bisa kuceritakan semua kesahku, yang bisa menjadi partner kala suka dan duka. "Persahabatan saat kuliah biasanya gak mendalam. Mereka gak bisa dipercaya," kata orang yang menjadi tempat curhatku akhir-akhir ini. Aku masih belum percaya pernyataannya tersebut. Namun, mungkin saat aku masuk dunia pekerjaan yang lebih sadis, baru bisa kutemukan orang yang bisa sungguh aku percaya.

Jarak. Jauh. Tapi Dia tidak jauh. Dia hanya sejauh doa. Tuhan hanya sejarak doa. Lagi-lagi, aku hanya bisa kembali pada Tuhan. Sejauh apapun jarak yang aku coba buat dengan Tuhan, Dia setia menungguku kembali. Tak pernah Dia berkomentar, "Eh, masih inget buat berdoa?" "Kirain udah lupa sama Aku, anakKu". Hanya kasih sayang yang kurasakan, setiap kali aku menangis dalam doa, setiap kali aku kembali padaNya. And this beautiful Bible quote couldn't make me calm more:

"I call on the Lord in my distress, and He answers me."- Psalm 120:1.

Tuesday, May 5, 2015

Dear May

Tak terasa, bulan sudah berganti. Mei. Tak terasa, karena dulu janjiku pada diri untuk mendaftar sidang pada tanggal 4 Mei. Nyatanya, sekarang sudah tanggal lima. Dan sekali lagi, aku gagal untuk daftar sidang. Aku merasa tak berguna lagi. Aku merasa tidak berharga lagi. Harapan kedua orangtuaku harus pupus sekali lagi, untuk bisa melihat anak sulungnya ujian skripsi.

Rasanya bingung, aku merasa sendirian. Tak ada yang sungguh-sungguh peduli padaku, bahkan orang-orang yang kupikir akan peduli. Tapi tak bisa dan tak boleh kuharapkan orang lain peduli, mereka punya urusan masing-masing. Namun aku beruntung.....

Akhir tahun 2014 lalu, aku bergabung dalam sebuah komunitas fotografi ponsel. Saat itu, aku masih tak bisa apa-apa. Namun ketertarikanku akan dunia foto semakin memuncak saat bersentuhan dengan dunia foto minimalis. Dalam komunitas itu, aku bertemu dengan seseorang. Awalnya, kupikir aku hanya akan sebatas berteman dengannya. Hanya sekadar obrolan tentang foto. Sungguh di luar dugaanku, orang ini melakukan lebih. Tak hanya bicara tentang fotografi semata, orang ini menyentuh hidupku secara personal. Beberapa hari lalu saat aku sungguh ada di titik bawahku, dialah orang yang sungguh-sungguh peduli. Aku terharu dan merasa bersalah saat tahu dia sungguh kuatir padaku. Tak pernah kudapatkan perhatian seistimewa ini. Dan aku bersyukur. Dari dulu aku ingin sekali punya seorang kakak, sosok yang bisa menjaga, melindungiku, dan membuatku merasa aman. Orang ini menjagaku, memastikan aku aman dengan caranya sendiri, dan membuatku tidak kuatir dulu. Orang ini membuat aku merasa bahwa aku disayangi. Om Dhana, begitulah aku biasa memanggilnya. Aku merasa bahagia bisa mengenal dirimu Om. Aku merasa sungguh diberkati bisa bertemu denganmu. Bagiku, kau seperti malaikat yang dikirim Tuhan untuk menjagaku dengan caramu sendiri. Aku beruntung.

..........bisa bertemu dengan orang yang sungguh-sungguh peduli padaku. Dan biarlah kepedulian ini bisa membuatku menyemangati diriku, untuk menyelesaikan skripsi, menyelesaikan sidang, menyelesaikan mimpiku yang tertunda.

Dear May, please be nice.

Wednesday, April 29, 2015

The moment when you realize.....

That your dream broken into pieces.
That your mind going crazy.
That your body isn't that strong.
That your friends leave you one by one.
That your lover is such an asshole.
That your life isn't that perfect.

The moment when you realize....
You just fed up.
You can't hold it anymore.
You wanna run away.
You need to end things as soon as possible.
You start to stop believing.

The moment when you realize...
You are just a human.
You are tired of being alone.
You are nothing.

And that's the moment when you finally realize..
I just need God.
I need God to walk with me.
I need God to lead me.
I need God who won't leave me,
I need God who won't disappoint me.
I need God who will love me for who I am.

And that's the moment I am thankful because I have you, dear Jesus.

Diberkati

"Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu" - Amsal 24:10

Akhir-akhir ini entah kenapa moodku benar-benar naik turun.
Flu yang sudah seminggu tak kunjung sembuh.
Persiapan acara tribut yang cukup menyita waktu dan perasaan.
Dan, skripsi.

Badan yang tidak sehat dan mental yang juga tidak sehat, alhasil membuat pikiran carut marut. Mungkin posting sebelum ini adalah salah satu hasilnya. Lagi-lagi ide gila untuk kabur muncul terus dan terus dan terus. Aku beruntung, salah satu hal yang masih terus aku coba untuk lakukan konsisten adalah saat teduh. Kenapa beruntung?

Lima hari lalu, aku penat. Gerah dengan keadaanku. Pagi itu sungguh gundah gulana, tidak berprogress banyak dalam pengerjaan skripsi, tak berniat untuk berkontak dengan orang lain, merasa ditinggalkan. Lalu pagi itu, aku putuskan untuk bersaat teduh. Hasil renungan pagi itu mengingatkan aku untuk tetap konsisten secara spiritual. Tersentil.

Empat hari lalu, aku merasa mengalami kemalangan. Skripsi tak selesai, kehilangan seorang teman selamanya, merasa tidak dipedulikan oleh orang yang menyebut dirinya teman atau keluargaku, merasa sial. Lalu pagi itu, aku putuskan untuk bersaat teduh. Hasilnya aku semakin tahu bahwa Tuhan mengijinkan kemalangan terjadi dalam hidupku. Bukan untuk membuatku nelangsa. Namun untuk membuatku sadar bahwa dalam banyak kemalangan, lebih banyak berkat dan kebaikan Tuhan dalam hidupku. Tercubit.

Tiga hari lalu, hari Minggu. Hari itu entah mengapa aku bersukacita. Damai sekali hatiku. Ya, pagi itu pertama kalinya aku bertugas menjadi operator proyektor di gereja. Aku senang, setidaknya aku bisa melakukan sesuatu untuk Tuhan. Setelahnya, aku lebih senang saat bisa bertemu dengan anak-anak kecil di ibadah pelayanan anak. Senang melihat ketulusan dan keantusiasan mereka bernyanyi dan memuji Tuhan. Malam harinya, sungguh aku merasa dikuatkan. Malam itu aku putuskan mengikuti ibadah pemuda. Fisikku sudah super lelah, ditambah hujan geremis. Namun, kakiku tetap melangkah ke tempat ibadah. Khotbah malam itu sungguh menggugah hati. Jangan menyerah, konsisten pada tanggung jawab, dan jujur. Hal-hal yang bisa kuterapkan dalam hidupku, khususnya skripsiku saat ini. Tergugah.

Dua hari lalu, entah mengapa aku down. Aku merasa ingin kabur dari semuanya. Ingin kabur dari tanggung jawabku. Ingin kabur dari skripsi. Aku merasa ingin bersembunyi. Pergi ke suatu tempat tanpa penghuni. Biarlah aku mati sendirian disana. Toh tak ada yang peduli, bagusnya mengurangi populasi. Lalu pagi itu, aku putuskan untuk bersaat teduh. Hasilnya aku merasa malu, malu karena aku sembunyi. Malu karena aku ingin mati. Malu karena aku tak sadar bahwa aku punya Tuhan yang luar biasa. Kalimat indah dari renungan hari itu, "ketimbang sembunyi, ajak Tuhan berjalan bersamamu." Tersentuh.

Satu hari lalu, aku merasa tidak berdaya. Lagi-lagi aku merasa ditinggalkan, khususnya oleh teman-temanku. Mereka sudah mau sidang skripsi, katanya. Senang, akhirnya ada temanku yang sudah mau sidang. Namun, sakit, perih sekali. Dulu, waktu masih seminar, aku berusaha untuk bisa mendukung mereka, khususnya yang sebimbingan denganku. Sebisa mungkin aku tak mau berprogress sendirian. Namun, sejak tahun lalu, aku merasa ditinggalkan. Tak pernah aku diajak mengerjakan skripsi bersama. Bimbingan dengan dosen pun, tak pernah aku ditanyakan, padahal dosen pembimbing pun sama. Sekadar basa-basi menanyakan keadaan skripsiku pun, ah sudahlah. Awalnya perih sekali, bagai luka tersayat, lalu disiram perasan jeruk nipis. Aku merasa tidak dianggap, aku merasa tidak bernilai. Lalu pagi itu, aku putuskan untuk bersaat teduh. Hasilnya aku menangis. Menangis sampai kuyup. Kalimat penutup renungan hari itu "di mata Allah, kamu tetaplah ciptaan yang mulia dan di tanganNya, kamu dapat menyatakan kemuliaanNya." Tertampar.

Semalam aku putuskan untuk kembali menyapa orang-orang yang sungguh peduli padaku. Aku merasa hidupku masih berarti. Aku berusaha mengobarkan kembali semangatku. Lalu pagi ini, aku putuskan untuk bersaat teduh. Hasilnya, aku kembali menangis, menangis penuh sukacita. Pagi ini aku diajarkan untuk tidak menyerah, apapun yang aku hadapi. Satu ayat bacaan hari ini yang sungguh menguatkanku adalah "Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu" - Amsal 24:10. Aku disadarkan untuk tidak menyerah, untuk terus mencoba meski gagal, untuk memperbaiki kesalahan. Aku disadarkan untuk berjuang dengan Tuhan. Aku diajarkan untuk tidak menyerah. Terselamatkan.

Aku sungguh merasa tenang. Meskipun hari-hariku sepi tanpa manusia, aku tahu bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkanku. Meskipun hari-hariku penuh luka dan kekecewaan, aku tahu Tuhan izinkan itu terjadi. Meskipun aku lemah tidak berdaya, aku yakin jika kuminta, Tuhan akan berjalan bersamaku. Meskipun aku tidak berharga di mata manusia, aku bernilai di mataNya. Meskipun aku dalam masa kesusahan, selama aku berjuang dan tidak menyerah Tuhan tidak akan tinggalkanku. Diberkati.

Monday, April 27, 2015

Bunuh diri?

Ide bunuh diri.
Tak hanya sekali dua kali muncul dalam pikiranku.
Rasa ingin lari dari kenyataan yang kuhadapi.

Kalau mati bunuh diri, tak perlu pikir skripsi.
Kalau mati bunuh diri, tak perlu pikir kerjaan,
Kalau mati bunuh diri, tak perlu pikir beban.

Kalau mati bunuh diri, sayangnya keluarga pasti malu.
Kalau mati bunuh diri, sayangnya nama almamater, komunitas, organisasi pasti jelek.
Kalau mati bunuh diri, sayangnya bukan berarti masuk surga.

Tapi terkadang aku lelah. Tanpa ada tempat berkesah.
Aku takut bunuh diri. Tapi otak masih kembali mengulang ide itu di kepalaku. Scumbag brain.
Apa yang akan terjadi pada diriku aku pun tak tahu.
Ah, entahlah. Hanya belum siap jika harus melihat keluargaku malu karena tingkahku.
Ah, entahlah. Hanya belum siap jika harus menyiakan kasih Tuhanku padaku.

Saturday, April 25, 2015

Akhirnya Datang Juga

Akhirnya datang juga hari itu.
Hari menggunakan toga.
Hari menjadi wisudawan dan wisudawati.
Hari dimana senyum bahagia merekah di wajah sendiri.
Hari dimana orangtua bisa menangis bangga.
Hari wisuda.

Sayangnya hari ini bukan untukku.

25 April 2015.
Hari wisuda bagi teman-temanku yang sudah menyandang gelar Sarjana Psikologi dan Sarjana lainnya. Hari ini sebetulnya aku sakit. Flu yang semakin parah sejak dua hari lalu. Hidung tersumbat, bersin tak kunjung henti, papila tak berhasil memberi rasa pada makanan. Tapi toh akhirnya aku datang juga.
Awalnya hanya satu nama yang terpikir di otakku. Theresia Michelle Alessandra. Sedih rasanya tak bisa hadir saat kamu sidang Chelle. Dan aku tak mau lagi membuatmu kecewa di hari wisudamu ini. Walau badan tidak fit, jaket biru itu masih bisa membuatku sedikit hangat.

Tibalah di JCC pukul 11.00 WIB bertemu dengan Ella dan Frieska. Berbincang bersama mereka, satu-satu nama temanku yang lain mulai muncul di pikiran. Ya, mereka yang akan di wisuda hari ini. Yuana, Raissa, Lupita, Keitha, Meitri, dan masih banyak yang lainnya yang tak bisa kuingat satu per satu. Kupikir pukul satu siang sudah bisa kutemui mereka, sayangnya hingga pukul tiga prosesi wisuda belum rampung. Walau kaki sudah pegal dan kepala makin pening, tak ingin rasanya kulewatkan senyum di wajah teman-temanku.

Akhirnya datang juga.
Saatnya aku bisa bertemu dengan mereka! Sorakan, senyuman, pelukan, cium pipi, ucapan selamat mengalir keluar setiap kutemui temanku yang wisuda hari ini. Senang rasanya bisa melihat kebahagiaan mereka. Hanya doa dan ucapan selamat yang bisa kuberikan. Semoga teman-temanku ini sukses. Semoga bisa kususul mereka bulan November nanti.

Happy Graduation Day!!!
Sempat kecewa karena orang yang kutargetkan untuk kutemui belum juga terlihat. Duh Michelle aku susah sekali mencarimu. Untunglah bisa ketemu walau kurang dari lima menit. Sedih masih terasa karena belum sempat berfoto denganmu Michelle. Semoga hadiah kecilku bisa menyenangkan harimu ya.

Jujur saja, melihat kondisi hari ini aku terpacu. Terpacu untuk menyelesaikan skripsiku. Terpacu untuk membayar lunas hutangku. Terpacu untuk segera mendapat gelar Sarjana. Yang kini kubuthkan hanya semangat yang lebih keras, doa yang lebih tekun, kerja yang lebih konsisten, dan keyakinan bahwa Tuhan akan buat semua indah pada waktuNya.

Sekali lagi, selamat sarjana teman-temanku!

Akhirnya akan datang juga,
hari itu untukku.
Pasti.

Thursday, April 23, 2015

Verbatim oh Verbatim

ver·ba·tim
vərˈbādəm/
adverb & adjective
  1. in exactly the same words as were used originally. (Taken from Google)


Exactly the same words as were used originally. Bukan barang baru bagi mahasiswa psikologi ketika mendengar istilah verbatim. Detik, menit, jam, hari bisa dihabiskan untuk menuliskan kembali *plek-plek-an* hasil wawancara ke dalam dokumen ketik. 

Dulu ketika semeseter 4, pertama kali mengambil kuliah observasi dan wawancara, rasanya masih excited ketika mengerjakan verbatim. Rasanya lucu ketika harus mendengar suara sendiri saat mewawancarai orang lain. Rasanya seru bisa mendengarkan kembali hasil wawancara dengan partisipan. Rasanya lelah saat harus mengetik setiap kata yang keluar dari mulut pewawancara dan partisipan.

Dulu ketika memutuskan memilih metode kualitatif untuk skripsi, sebenarnya saya sudah meyakinkan diri bahwa saya akan bisa menyelesaikan verbatim wawancara. Punya pengalaman membuat verbatim pada mata kuliah, dan sempat menjadikannya pekerjaan sambilan sementara pun membuat saya optimis saya akan sanggup menyelesaikan verbatim saya nantinya. 

Tetapi kok tetapi, rasa malas sempat menyerang memikirkan harus membuat verbatim. Seorang partisipan, dua orang partisipan, tiga orang partisipan. Duh membayangkannya sungguh mual. Tak jarang saya mendengar selentingan teman-teman yang bilang: "Bayar orang ajaaa!" "Pake jasa verbatim gih!" "Minta tolong aja adek kelas yang mau ambil sidejob verbatimin," Duh menggiurkan. Tetapi kok ya saya tidak rela.

Tidak rela karena saya harus keluar uang lagi. Paling tidak rela lagi, jika nanti saya harus mengirimkan file suara yang adalah rahasia. Duh semngati diri saja deh. Yuk Rusviera, KAMU PASTI BISA!!! Semangat ya diriku yang cantik. Skripsimu pasti selesai. GO! GO! GO!

Wednesday, April 22, 2015

Is it, right?

Sakit.
Saat ditanya, "Udah sampai mana skripsinya?" "Kok gak selesai-selesai kerjain skripsi?" "Udah setahun lebih bikin skripsi, belom sidang sih?". Yang bikin sakit, yang menanyakan adalah mama. 
Kenapa sakit? Jujur, selama kuliah sejak masuk sampai semester 8 tak pernah kuterima pertanyaan soal tugasku. Mau pulang malam yasudah. Mau nginep yasudah. Tak pernah kuterima dukungan yang secara eksplisit mendukungku untuk mengerjakan tugas. Padahal tugas kuliah dulu berat, capek, penuh perjuangan.

Kenapa sakit? 
Sekarang aku merasa ditagih setiap hari. Ditagih layaknya hutangku besar sekali. Sakit karena aku tak pernah diberi kata semangat. Sakit karena aku hanya dituntut tanpa didukung. Mungkin itu bentuk dukungan, dengan menagihku setiap hari. Tapi aku lelah, ma. Di rumah setiap hari berusaha buka laptop dan tak ada inspirasi. Aku lelah, ma. Tapi tak pernah kudapat perhatian darimu. Sakitnya tuh disiniiiii... *biar kekinian sedikit* Tapi toh meskipun sakit aku bisa berharap. Harapanku bukan padamu, ma. Bukan padamu, pa. Bukan padamu, dik. Bukan padamu, teman. 
Kenapa bukan padamu? Karena manusia mengecewakan.

Aku hanya berharap padamu, Tuhan.
Aku hanya berharap pada sumber pengharapan.
Aku yakin Kau tidak mengecewakan.
And I know pain is real, but so is hope. Is it, God?

Evil Cycle?

Silau. Saat kubuka mata dan kulihat jam di ponsel pagi ini.
Sembilan tiga puluh.
Sembilan tiga puluh dan baru terbangun. Mau jadi apa?
Katanya anak gadis gak boleh bangun siang. Mau jadi apa urus suami nantinya?
Katanya jadi orang gak boleh bangun siang. Nanti rejekinya dipatok ayam.

Kok aku lelah.
Lelah karena beberapa bulan terakhir ini hidupku begitu-gitu aja.
Bangun siang, makan, nonton ftv, ngobrol dengan teman di line, nonton infotainment, nonton acara musik dangdut, edit foto di ponsel, nonton film bioskop tengah malam, tidur di atas jam 12 malam, bangun pagi lagi, dan kegiatan yang sama kuulang lagi.

Evil cycle.
Lingkaran setan.
Siklus yang gak akan terputus kalau bukan aku sendiri yang putuskan.
Siklus yang akan terus terulang sampe entah kapan kalau bukan aku sendiri yang menyelesaikan.
Kalau begini terus, kapan selesai skripsi?
Kalau begini terus, kapan dapat gelar sarjana?
Kapan wisuda?
Kapan dapat kerja?
Kapan bisa hidup dengan uang sendiri?

Mau menangis, aku lelah.
Menangis pun tak akan selesaikan apa-apa.
Aku mau kejar satu dulu hutangku yang sudah tertunda satu setengah tahun.
Skripsi.

Aku mau lulus tahun ini.
Aku sudah lelah.
Aku mau putuskan lingkaran setan ini.
Ayolah, aku.
Berusaha sedikit, jangan lelah, jangan down.
Setidaknya, lunasi satu hutangmu.

Evil cycle should be stopped. 

Tuesday, April 21, 2015

It's already April, 2015

Sudah 2015. Sudah bulan April. Sudah tanggal 21. Sudah hampir mencapai pertengahan tahun lagi. 

Sedihnya, meskipun sudah hampir mencapai pertengahan tahun ini, aku merasa gak menghasilkan apa-apa. Unproductive, lack of achievement. Perasaan tidak produktif ini sungguh membunuhku. Aku kangen hari- hari yang sibuk banyak kerjaan kuliah. Aku kangen hari-hari yang sibuk banyak tuntutan organisasi. Aku kangen hari-hari yang setiap hari ada kerjaannya.


Sedihnya, meskipun sudah hampir mencapai pertengahan tahun ini, aku masih belum menyandang gelar sarjana. Lelah, muak, capai, kehilangan motivasi. Perasaan lelah ini sungguh membunuhku. Aku ingin sekali punya tempat untuk berbagi, menyampaikan semua kejenuhanku akan skripsi ini. Aku ingin sekali bisa bangkit dan menyelesaikan skripsi ini. Aku ingin sekali segera keluar dari kejenuhan satu setengah tahun mengerjakan skripsi. Tapi toh setiap pagi kubuka mata, niat terkumpul, namun saat laptop terbuka aku tak tahu harus mengetik apa. Aku merasa hilang arah. Dosen pembimbing pun rasanya takut kuhadapi. Aku takut, segan, malu. 


Sedihnya, meskipun sudah mencapai pertengahan tahun ini, banyak sekali kejadian yang tak kutuliskan disini. Banyak sekali hal baik dan buruk yang kulalui hanya kurasa sekelebat. Banyak kejadian yang entah mengapa tak bisa kuresapi. Hari-hari berlalu tanpa makna bagiku. Aku rindu diriku yang dulu, yang suka menulis, untunglah kubuka lagi blog ini dan kutuliskan sesuatu hari ini.



Sarah, aku rindu kamu!
Sedihnya, saat mulai mencapai pertengahan tahun ini, aku banyak sekali menerima berita kehilangan. Kehilangan yang tak akan pernah kembali lagi. Satu kehilanganku yang paling kusesali adalah kehilangan kamu, Sarah. Sarah Rezivvon Tinayo, orang yang selama hidupnya sempat kusia-siakan. Orang yang terlampau baik, yang bahkan sejahat apapun aku padanya, dia masih tetap mau menyapaku. Orang yang terlalu luar biasa, yang bahkan sejutek apapun aku padanya, dia masih tetap mau memberikan senyum tulusnya. Orang yang terlalu murah hati, yang bahkan se-tak-peduli apapun aku padanya, dia masih tetap mau peduli padaku. Peduli sekali, bahkan peduli pada skripsiku. Kamu, Sarah, orang yang juga punya andil membantu skripsiku secara nyata. Yang bahkan di hari-hari terakhir hidupnya masih mau kusibukkan dengan pertanyaan tentang administrasi kampus, bahkan ku gerecok dengan chat " Saraaahh kapan skripsian bareng lagi?" Aku kehilangan kamu Sarah. Kehilangan sekali. 

Sedihnya, saat mulai mencapai pertengahan tahun ini, aku masih merasa kosong. Tidak berguna. Sia-sia. Sedihnya, walaupun sekitarku ramai, di dalam aku merasa sepi. 

Sunday, January 18, 2015

2014 IN A NUTSHELL

2014...
Awalnya berharap tahun ini bisa menjadi tahun baik - bisa punya hubungan lebih baik sama keluarga, hubungan yang lebih baik sama teman, memperoleh rekan baru, memiliki pencapaian yang membanggakan, dan yang terpenting mengakhiri sekolah sarjana.

Di akhir tahun 2014, rasanya belum ada yang terpenuhi dari keinginan tersebut. Keluarga ga ada bedanya, temen yang sesungguhnya semakin bisa dihitung jari, rekan baru bertambah namun tidak melegakan hati, pencapaian tidak maksimal, dan belum menyelesaikan skripsi.

Sedih, kecewa, marah, putus asa, mau mati, kayanya perasaan-perasaan itu mewarnai hampir sepanjang 2014 saya. Saya merasa stuck, was in my lowest point.

2014 rasanya memberikan saya banyak batu, kerikil maupun batu besar, untuk dilewati.
Capek!!!!
Benci!!!!

Semoga 2015 bisa jadi lebih baik.
Sekian.