Thursday, April 23, 2015

Verbatim oh Verbatim

ver·ba·tim
vərˈbādəm/
adverb & adjective
  1. in exactly the same words as were used originally. (Taken from Google)


Exactly the same words as were used originally. Bukan barang baru bagi mahasiswa psikologi ketika mendengar istilah verbatim. Detik, menit, jam, hari bisa dihabiskan untuk menuliskan kembali *plek-plek-an* hasil wawancara ke dalam dokumen ketik. 

Dulu ketika semeseter 4, pertama kali mengambil kuliah observasi dan wawancara, rasanya masih excited ketika mengerjakan verbatim. Rasanya lucu ketika harus mendengar suara sendiri saat mewawancarai orang lain. Rasanya seru bisa mendengarkan kembali hasil wawancara dengan partisipan. Rasanya lelah saat harus mengetik setiap kata yang keluar dari mulut pewawancara dan partisipan.

Dulu ketika memutuskan memilih metode kualitatif untuk skripsi, sebenarnya saya sudah meyakinkan diri bahwa saya akan bisa menyelesaikan verbatim wawancara. Punya pengalaman membuat verbatim pada mata kuliah, dan sempat menjadikannya pekerjaan sambilan sementara pun membuat saya optimis saya akan sanggup menyelesaikan verbatim saya nantinya. 

Tetapi kok tetapi, rasa malas sempat menyerang memikirkan harus membuat verbatim. Seorang partisipan, dua orang partisipan, tiga orang partisipan. Duh membayangkannya sungguh mual. Tak jarang saya mendengar selentingan teman-teman yang bilang: "Bayar orang ajaaa!" "Pake jasa verbatim gih!" "Minta tolong aja adek kelas yang mau ambil sidejob verbatimin," Duh menggiurkan. Tetapi kok ya saya tidak rela.

Tidak rela karena saya harus keluar uang lagi. Paling tidak rela lagi, jika nanti saya harus mengirimkan file suara yang adalah rahasia. Duh semngati diri saja deh. Yuk Rusviera, KAMU PASTI BISA!!! Semangat ya diriku yang cantik. Skripsimu pasti selesai. GO! GO! GO!

No comments:

Post a Comment