"Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu" - Amsal 24:10
Akhir-akhir ini entah kenapa moodku benar-benar naik turun.
Flu yang sudah seminggu tak kunjung sembuh.
Persiapan acara tribut yang cukup menyita waktu dan perasaan.
Dan, skripsi.
Badan yang tidak sehat dan mental yang juga tidak sehat, alhasil membuat pikiran carut marut. Mungkin posting sebelum ini adalah salah satu hasilnya. Lagi-lagi ide gila untuk kabur muncul terus dan terus dan terus. Aku beruntung, salah satu hal yang masih terus aku coba untuk lakukan konsisten adalah saat teduh. Kenapa beruntung?
Lima hari lalu, aku penat. Gerah dengan keadaanku. Pagi itu sungguh gundah gulana, tidak berprogress banyak dalam pengerjaan skripsi, tak berniat untuk berkontak dengan orang lain, merasa ditinggalkan. Lalu pagi itu, aku putuskan untuk bersaat teduh. Hasil renungan pagi itu mengingatkan aku untuk tetap konsisten secara spiritual. Tersentil.
Empat hari lalu, aku merasa mengalami kemalangan. Skripsi tak selesai, kehilangan seorang teman selamanya, merasa tidak dipedulikan oleh orang yang menyebut dirinya teman atau keluargaku, merasa sial. Lalu pagi itu, aku putuskan untuk bersaat teduh. Hasilnya aku semakin tahu bahwa Tuhan mengijinkan kemalangan terjadi dalam hidupku. Bukan untuk membuatku nelangsa. Namun untuk membuatku sadar bahwa dalam banyak kemalangan, lebih banyak berkat dan kebaikan Tuhan dalam hidupku. Tercubit.
Tiga hari lalu, hari Minggu. Hari itu entah mengapa aku bersukacita. Damai sekali hatiku. Ya, pagi itu pertama kalinya aku bertugas menjadi operator proyektor di gereja. Aku senang, setidaknya aku bisa melakukan sesuatu untuk Tuhan. Setelahnya, aku lebih senang saat bisa bertemu dengan anak-anak kecil di ibadah pelayanan anak. Senang melihat ketulusan dan keantusiasan mereka bernyanyi dan memuji Tuhan. Malam harinya, sungguh aku merasa dikuatkan. Malam itu aku putuskan mengikuti ibadah pemuda. Fisikku sudah super lelah, ditambah hujan geremis. Namun, kakiku tetap melangkah ke tempat ibadah. Khotbah malam itu sungguh menggugah hati. Jangan menyerah, konsisten pada tanggung jawab, dan jujur. Hal-hal yang bisa kuterapkan dalam hidupku, khususnya skripsiku saat ini. Tergugah.
Dua hari lalu, entah mengapa aku down. Aku merasa ingin kabur dari semuanya. Ingin kabur dari tanggung jawabku. Ingin kabur dari skripsi. Aku merasa ingin bersembunyi. Pergi ke suatu tempat tanpa penghuni. Biarlah aku mati sendirian disana. Toh tak ada yang peduli, bagusnya mengurangi populasi. Lalu pagi itu, aku putuskan untuk bersaat teduh. Hasilnya aku merasa malu, malu karena aku sembunyi. Malu karena aku ingin mati. Malu karena aku tak sadar bahwa aku punya Tuhan yang luar biasa. Kalimat indah dari renungan hari itu, "ketimbang sembunyi, ajak Tuhan berjalan bersamamu." Tersentuh.
Satu hari lalu, aku merasa tidak berdaya. Lagi-lagi aku merasa ditinggalkan, khususnya oleh teman-temanku. Mereka sudah mau sidang skripsi, katanya. Senang, akhirnya ada temanku yang sudah mau sidang. Namun, sakit, perih sekali. Dulu, waktu masih seminar, aku berusaha untuk bisa mendukung mereka, khususnya yang sebimbingan denganku. Sebisa mungkin aku tak mau berprogress sendirian. Namun, sejak tahun lalu, aku merasa ditinggalkan. Tak pernah aku diajak mengerjakan skripsi bersama. Bimbingan dengan dosen pun, tak pernah aku ditanyakan, padahal dosen pembimbing pun sama. Sekadar basa-basi menanyakan keadaan skripsiku pun, ah sudahlah. Awalnya perih sekali, bagai luka tersayat, lalu disiram perasan jeruk nipis. Aku merasa tidak dianggap, aku merasa tidak bernilai. Lalu pagi itu, aku putuskan untuk bersaat teduh. Hasilnya aku menangis. Menangis sampai kuyup. Kalimat penutup renungan hari itu "di mata Allah, kamu tetaplah ciptaan yang mulia dan di tanganNya, kamu dapat menyatakan kemuliaanNya." Tertampar.
Semalam aku putuskan untuk kembali menyapa orang-orang yang sungguh peduli padaku. Aku merasa hidupku masih berarti. Aku berusaha mengobarkan kembali semangatku. Lalu pagi ini, aku putuskan untuk bersaat teduh. Hasilnya, aku kembali menangis, menangis penuh sukacita. Pagi ini aku diajarkan untuk tidak menyerah, apapun yang aku hadapi. Satu ayat bacaan hari ini yang sungguh menguatkanku adalah "Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu" - Amsal 24:10. Aku disadarkan untuk tidak menyerah, untuk terus mencoba meski gagal, untuk memperbaiki kesalahan. Aku disadarkan untuk berjuang dengan Tuhan. Aku diajarkan untuk tidak menyerah. Terselamatkan.
Aku sungguh merasa tenang. Meskipun hari-hariku sepi tanpa manusia, aku tahu bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkanku. Meskipun hari-hariku penuh luka dan kekecewaan, aku tahu Tuhan izinkan itu terjadi. Meskipun aku lemah tidak berdaya, aku yakin jika kuminta, Tuhan akan berjalan bersamaku. Meskipun aku tidak berharga di mata manusia, aku bernilai di mataNya. Meskipun aku dalam masa kesusahan, selama aku berjuang dan tidak menyerah Tuhan tidak akan tinggalkanku. Diberkati.
No comments:
Post a Comment