Pagi ini aku bangun dengan semangat sekali. Rencananya seharian aku mau mengerjakan revisi skripsi. Langsung saja aku mandi dan merasa sangat segar. Saat kembali ke kamar sesudah mandi, aku cek handphone-ku. Ada 7 email yang masuk, salah satunya dari dosen pembimbing skripsi. Dosen pembimbing skripsi bukanlah suatu asosiasi yang menyenangkan buatku. Setiap kali ada email darinya, perutku langsung mules. Tak berbeda saat kubaca email pagi ini.
Email itu menunjukkan progress skripsi dari masing-masing bimbingannya yang menggunakan metode kualitatif. Lagi-lagi aku harus nelangsa, melihat bahwa bahkan angkatan di bawahku membuat progress yang lebih cepat. Aku langsung down. Jujur saja, aku sudah bingung dengan proses bimbingan skripsiku.
Rabu lalu, aku bimbingan skripsi. Saat membuat janji, aku dijanjikan untuk bimbingan pukul 11 siang. Kenyataannya aku baru masuk ruang bimbingan pukul 11.55. Aku menunggu 55 menit di kursi itu untuk bisa memulai bimbinganku. Bukannya aku keberatan disuruh menunggu, namun aku semestinya bisa menggunakan 55 menit itu untuk melakukan pekerjaan lain yang sama pantingnya. Ini bukan kali pertama aku harus menunggu beberapa lama untuk bimbingan. Bimbingan yang lalu, akupun harus menunggu 25 menit lebih untuk akhirnya memulai bimbingan. Tak hanya menunggu lama, proses bimbinganpun selalu singkat. Tak sampai 30 menit. Selama bimbinganpun aku merasakan emosi tidak menyenangkan. Dosen pembimbingku rasanya sudah enggan memberikan masukan. Aku bisa melihat hal ini dari gestur dan tutur katanya. Akhir-akhir ini, dosen pembimbingku selalu melibatkan dosen lain untuk memberi masukan saat bimbingan. Jujur saja, aku merasa lebih nyaman dengan dosen yang lain, yang setidaknya masih menunjukkan antusiasme saat memberikan masukan.
Ya, aku tahu aku salah. Aku sungguh sangat tidak serius dalam mengerjakan skripsi. Inikah balasan yang kuterima? Di bimbingan lalu-lalu, poin A tidak dipermasalahkan. Namun di bimbingan kemarin poin A seolah jadi masalah besar. Di bimbingan lalu-lalu, poin C harus dituliskan bla bla bla. Di bimbingan kemarin bla bla bla lagi-lagi kurang ini itu. Harus apa dengan skripsiku? Aku merasa semangat yang sudah coba kupupuk begitu lama harus terpatahkan lagi dalam sekejap.
Aku lelah. Jenuh dengan skripsi yang belum kunjung usai. Aku harus apa, toh menangis tak pernah membantuku menyelesaikan skripsiku. Mengerjakan perlahan pun masih tetap salah. Aku bingung. Aku hilang arah.
No comments:
Post a Comment