Tuesday, May 19, 2015

Tenang

Sore itu aku merasa nanar. Perih sekali dalam hati. Setelah kuputuskan untuk mengurangi jarak dan mendapat respon tidak menyenangkan, aku memutuskan untuk diam. Kali ini sungguh diam. Seminggu terakhir, kembali aku tidak muncul di grup itu. Ini kali pertama aku mematikan notifikasi grup ini. Aku memilih menjaga diriku dulu. Protecting myself from another painful events. Seminggu terakhir ini, tanpa komunikasi dengan mereka, aku mencoba mencari kedamaian dan rasa hangatku sendiri. Aku bersyukur, seminggu terakhir ini bisa lebih banyak menghabiskan waktuku dengan keluarga, dengan orang-orang yang bisa menerimaku apa adanya. Geli rasanya untuk membayangkan (lagi) bahwa orang-orang itu adalah orang yang sungguh-sungguh baru masuk dalam hidupku akhir-akhir ini.

Seminggu ini, aku merasa jauh lebih tenang. Aku merasa tidak terlalu jengah. Aku merasa bisa menata kembali hidupku perlahan-lahan. I feel so blessed to finally found out who truly care for me. Perasaan ini sungguh meluap-luap, mengetahui masih ada orang yang peduli padaku. Setidaknya, aku tahu aku masih bisa berjuang bersama mereka. Aku merasa tenang. Mengutip kata Einstein, "Terimakasih sudah berkata tidak padaku. Karena akhirnya, aku bisa menemukan kebahagiaanku sendiri." Tanpa ada rasa tidak nyaman, tanpa ada rasa jengah, tanpa ada kemunafikan.


No comments:

Post a Comment