Monday, July 11, 2011

Berasa makan buah simalakama....

Hmm gw ikutan lomba karya tulis di gereja gw.. Temanya tentang pacaran beda agama.. Awalnya sih udah gak pengen ikutan.. Kenapa? Karena.. karena.. karena gw berasa makan buah simalakama.. Di satu sisi gw tau kalo hal itu ga boleh dan di sisi lain gw bilang itu boleh.. Huah.. Gatau gimana akhirnya, gw putusin buat ikutan lomba itu.. Gw tau gw salah. Salah. Banget. Tapi gw cuma mau pikirin sekarang dulu. Sekarang, bukan buat nanti, bukan buat masa depan. Gw tau. Tanpa perlu dibilangin. Gw salah.

Jadi inilah sepenggal apa yang gw tulis buat lomba itu...

Di kalangan anak muda, berpacaran bukanlah barang baru. Ketika saya bertanya pada teman saya, ia menjawab bahwa ia sudah sering berpacaran. 18 kali. Itulah jawaban yang saya peroleh ketika saya bertanya berapa kali ia berpacaran. Bagi teman saya itu, dengan semakin banyak berpacaran maka ia memiliki nilai lebih diantara teman-temannya. ‘Gak pacaran, gak gaul’ atau ‘Gak galau, gak gaul’, menjadi slogan yang akrab di telinga anak muda jaman sekarang.
Pacaran tampaknya sudah menjadi patokan bagi anak muda agar mereka bisa diterima diantara teman-temannya. Hal tersebut terkadang membuat anak muda sekadar memilih pacar yang ‘seadanya’. Fenomena ini membuat cukup banyak anak muda terlibat dalam pacaran beda agama. “Ah, masih pacaran kok. Belum serius,” mungkin itulah yang terlintas di pikiran mereka. Padahal tanpa disadari, sebenarnya pacaran adalah proses awal yang akan membentuk hubungan ke jenjang pernikahan. Pacaran yang dianggap belum serius itu ternyata merupakan sebuah gerbang menuju suatu hal yang sangat serius. Satu hal penting yang juga dibutuhkan dalam pernikahan tersebut adalah seorang partner.
Partner yang saya maksud diatas adalah pasangan hidup. Pasangan hidup yang seperti apa yang sebaiknya dimiliki? Bagi saya, sebagai seorang Kristiani, pasangan hidup yang sebaiknya dimiliki adalah pasangan hidup yang seimbang. Seperti yang tercantum dalam Alkitab, Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? (2 Korintus 6 : 14). Menurut saya, pasangan yang seimbang adalah pasangan yang seiman (iman Kristiani). Pasangan yang memiliki visi dan misi yang sama. Bukankah lebih mudah membangun rumah tangga jika kita dan pasangan kita memiliki visi dan misi yang sama? Bukankah lebih mudah jika kita dan pasangan kita berada di dalam satu “perahu” yang sama?
Tidak menutup kemungkinan ada muncul banyak masalah jika partner (pasangan hidup) kita memiliki agama yang berbeda. Melihat pernikahan pasangan yang seagama saja, masalah seringkali datang. Apalagi jika pasangan yang tidak seagama. Perbedaan agama sendiri menjadi suatu masalah bagi mereka. Jika memutuskan untuk menikah, di mana akan dilakukan pemberkatan nikah? Di gereja-kah? Di masjid-kah? Di vihara-kah? Baru satu masalah muncul untuk memutuskan tempat pemberkatan nikah. Tentu masih banyak masalah yang akan datang di kehidupan selanjutnya. Bagaimana dengan anak-anak? Ikut agama mama? Atau ikut agama papa? Atau tidak keduanya? Pernikahan beda agama tersebut bahkan berdampak bagi orang lain, bagi anak-anak mereka nantinya.
Saya sendiri pernah terlibat dalam pacaran beda agama. Di awal hubungan saya berpikir, saya harus bisa membuat dia mengenal Kristus. Saya berusaha. Namun, masalah-masalah di atas seringkali juga muncul dalam pikiran saya. Belum lagi masalah persetujuan orang tua. Pasti sangat sulit untuk meminta persetujuan mereka. Bahkan, untuk memberitahukan bahwa pacar saya berbeda agama saja sudah sulit. Menyita pikiran, perasaan dan waktu saya. Tidak jarang saya menangis memikirkan hubungan saya. Karena hal tersebut, prestasi saya di perkuliahan sempat menurun. Saya tidak bisa berkonsentrasi belajar dengan baik bahkan membuat saya sedikit menjauh dari teman-teman saya. Keputusan saya untuk mengakhiri hubungan dengan pacar saya yang berbeda agama tampaknya merupakan suatu hal yang tepat. Jika lebih banyak ‘kerugian’ yang saya peroleh dari hubungan ini, kenapa harus saya pertahankan?
Tidak jarang banyak anak muda yang menggunakan dalih yang juga saya gunakan di awal hubungan saya. Saya akan membuat dia mengenal Kristus. Namun, apakah hal itu bisa mempertahankan hubungan? Belum tentu. Saya sendiri mengakui bahwa saya belum mengenal Kristus dengan baik. Mungkin juga dengan anak-anak muda di luar sana yang mengatakan ‘Saya akan membuat dia mengenal Kristus’, apakah mereka sudah mengenal Kristus dengan baik? Jangan sampai pada akhirnya malah kita yang meninggalkan Kristus.
Sewaktu katekisasi, saya selalu ingat salah satu perkataan bapak pendeta tentang pacaran beda agama. “Buat yang laki-laki, jangan karena si Aisyah cantik lalu kamu jual Tuhan Yesus. Buat yang perempuan, jangan karena si Muhamad ganteng, punya mobil banyak, uang banyak, lalu kamu jual Tuhan Yesus.” Kalimat tersebut masih membekas dalam ingatan saya. Saat itu saya berpikir, “Saya gak mungkin jual Tuhan Yesus.” Tetapi ketika waktu itu saya memutuskan untuk berpacaran dengan orang yang berbeda agama, tidak menutup kemungkinan saya bisa menjual Tuhan Yesus. Saya bersyukur sudah mengakhiri hubungan itu.
Berteman dengan banyak orang tidak salah. Walaupun berbeda agama sekalipun. Sebagai bangsa Indonesia kita juga mengenal Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu. Saat berteman, bertemanlah sebanyak-banyaknya tanpa memandang ras, suku bangsa, jenis kelamin ataupun agama. Tetapi ketika kita sudah memutuskan untuk memilih pasangan kita hendaklah kita memilih pasangan yang seiman (iman Kristiani). Pilihlah pasangan hidup yang seimbang, yang jika kita nantinya memasuki gerbang pernikahan, kita bisa membangun rumah tangga yang didasarkan pada Tuhan Yesus. Bukankah orang yang memiliki kaki sama kuat dapat berlari dan berjalan lebih cepat daripada orang yang memiliki kaki kuat sebelah saja?

Dan ya.. Gw salah.

No comments:

Post a Comment